Buat orang Indonesia, sinetron pasti sudah bukan barang baru lagi. Sinetron sudah jadi makanan sehari-hari. Pagi, siang, sore, malam, sinetron selalu muncul dimana-mana. Tiap kali menyalakan tv, pasti ada sinetron yang sedang ditayangkan. Muak!!! Itulah yang aku rasain tiap kali menyalakan tv. Pengennya dapat hiburan eh malah dapat kesesatan.
Yap rasanya ngga berlebihan kalau aku bilang sinetron itu menyesatkan. Dari jaman SD sampai S1 ramuan sinetron tetap ngga berubah. Si kaya versus si miskin, perebutan harta warisan, anak hilang, hamil diluar nikah, anak yang tertukar, benci jadi cinta, gadis kaya yang sombong. Pokoknya monoton deh…Ngga kreatif…Entah karena ngga ada ide atau karena menuruti selera pasar. Tapi masak iya orang Indonesia ngga bosen sama yang namanya sinetron yang ceritanya selalu sama dengan pemain yang berbeda bahkan kadang pemainnya pun sama.
Kadang-kadang malah satu orang bisa muncul di dua sinetron yang ditayangkan dalam waktu bersamaan di dua stasiun tv yang berbeda. Parahnya lagi karakter yang dimainkan pun sama. Nah ngomong soal karakter, ada beberapa karakter yang selalu muncul dalam sinetron Indonesia, yaitu: gadis miskin yang baik hati (belakangan ketahuan kalau dia sebenarnya anak orang kaya), gadis kaya yang sombong (belakangan diceritakan kalau dia anak orang miskin), pemuda kaya yang naksir gadis miskin, pemuda baik hati yang naksir tokoh utama, gadis licik yang rela melakukan segala cara demi mendapat sang pujaan hati, ibu baik hati yang sayang keluarga, tante or bude judes yang menentang hubungan tokoh utama, ibu sadis yang ngotot nikahin anaknya sama orang kaya, bapak baik hati yang sayang anak, bapak jahat yang tega jual anaknya, bapak-bapak atau mas-mas berdasi yang ngga jelas kerjanya apa (yang penting pake dasi :P), pembantu rumah tangga yang baik hati suka nolongin majikan, pembantu jahat yang suka ikut-ikutan njahilin tokoh utama, dokter yang bisa diajak berkomplot buat rencana jahat, tokoh utama yang begonya minta ampun karena mau disiksa lahir dan batin (bukannya nglawan malah tetep mbantuin si penyiksa, emang ada orang sebodoh itu?). Wah kalau mau ditulis daftarnya, bisa panjang banget…
Kalau sinetronnya buat remaja ngga jauh beda karakternya biasanya tokoh utama kalau cewek ceroboh trus ngga cantik tapi naksir cowok cakep bin pintar (agak terpengaruh komik Jepang gitu d :P) Kalau tokoh utamanya cowok ngga jauh beda kok, cowok cupu naksir cewek popular. Pokoknya karakter-karakter di sinetron Indonesia itu hitam putih banget. Yang baik ya baik, yang jahat ya jahat banget. Padahal kan ngga ada orang yang bener-bener baik. Udah gitu perbedaan yang ditampilin selalu mencolok yang satu mobilnya BMW seri terbaru yang satu tinggal di gubuk reot. Sengaja dibikin kayak gitu buat menggali konflik yang nantinya bakal jadi jalinan cerita sinetron itu. Padahal ngga perlu nunjukin perbedaan semencolok itu untuk menggali konflik. Kalau jeli dan kreatif perbedaan kecil antar dua karakter pun bisa diolah menjadi konflik (bukannya sok tahu tapi berdasarkan kehidupan nyata aku sering lihat kok perbedaan kecil bisa jadi konflik besar, bahkan pernah mengalaminya sendiri :P).
Selain karakter yang seragam, cerita sinetron juga ngga jauh dari pakem Cinderella story yang berakhir bahagia. Emang sih semua orang mengharapkan akhir yang bahagia tapi ngga ada salahnya juga bikin akhir yang ngga bahagia. Tapi kayaknya kreator belum pede atau belum berani bikin ending yang beda. Kadang malah endingnya ngga masuk akal. Hanya karena sinetron ngga laku terus kreator buru-buru mengakhirinya tanpa peduli jalan cerita sebelumnya. Cerita langsung disederhanakan dengan mengabaikan logika. Kacau deh endingnya…
Bukannya meremehkan atau gimana tapi sinetron Indonesia itu memang tidak dibuat dengan sungguh-sungguh. Bukan cuma logika yang diabaikan, setting, kostum dan perlengkapan pendukung pun ngga diperhatikan. Apa ngga ada riset ya sebelum bikin sinetron? Masak karakternya orang miskin tapi bajunya bermerk, setting beda waktu bertahun-tahun tapi kondisi kehidupan masih sama. Di sinetron kayaknya ngga ada setting waktu, bisa kapan aja tanpa ada perubahan yang signifikan. Ketidaklogisan bukan hanya dari segi setting, kostum, dsbnya tapi juga pemilihan pemain. Pemeran ibu kadang masih berumur belasan. Anak sekolahan berperan jadi eksekutif muda berdasi. Ibu muda umur 20an jadi ibu-ibu umur 40an. Luar biasa aneh dan tidak masuk akal, tapi begitulah adanya
Pemilihan pemeran yang ‘asal’ masih ditambah akting pemain yang buruk. Akting yang berlebihan, terlalu dibuat-buat atau malah terlalu datar. Meski aku bukan kritikus film atau guru seni peran, aku bisa menilai kalau akting mereka itu buruk. Kalau marah selalu identik dengan mata melotot, urat leher keluar dan suara menggelegar. Dari mulai akting yang sok imut, sok polos (bukannya bikin simpati tapi malah bikin emosi :P) hingga akting yang sok ‘cool’ semuanya ngga ada yang beres. Paling sebel kalau lihat akting artis indo yang sok ngga bisa bahasa Indonesia. Masak ngga bisa bahasa Indonesia bisa berperan jadi orang Indonesia? Entahlah apa pertimbangannya.
Dari semua hal buruk yang ada pada sinetron kita, yang paling ngga bisa ditolerir adalah aksi jahat yang ditampilkan. Aksi jahat di sinetron kita udah mencapai tahap yang membahayakan. Anak SD udah diajari bermusuhan, bahkan kadang gara-gara rebutan pacar. Lebih buruk lagi mereka suka menjahati teman, sampai punya niat meracuni, membunuh, melenyapkan nyawa. Sangat memprihatinkan dan menjijikan!!! Bapak menjual anak, teman meracuni teman, pokoknya jahatnya orang jahat deh…Menghilangkan nyawa jadi hal yang umum di sinetron.
Kreator sinetron kadang berdalih kalau cerita mereka menggambarkan kehidupan sehari-hari atau terinspirasi kehidupan sehari-hari. Tapi apa iya masyarakat kita seburuk itu? Aku ngga mau munafik memang banyak orang jahat di Indonesia ini tapi apa yang ditampilkan sinetron masih terlalu berlebihan. Bukannya aku mau munafik dengan menampilkan hal yang baik-baik saja tapi setidaknya tampilkanlah hal-hal yang tidak menyesatkan. Sinetron sama sekali tidak menyampaikan pesan apa pun.
Anehnya dengan semua keburukan sinetron, tetap saja ia mampu membius penonton. Seburuk apapun sinetron itu tetap ada peminatnya. Entah apa yang membuat sinetron begitu diminati di Indonesia. Menurutku tidak ada hal bagus yang bisa kita dapat dari sinetron. Sama sekali tidak menghibur yang ada malah bikin jantungan dan darah tinggi karena emosi lihat aksi jahat, akting, dan kebodohan karakter utama yang mau-maunya disiksa lahir dan batin. Riwayat sinetron dari dulu sampai sekarang tetap menjemukan. Sinetron…Oh…Sinetron kubenci tapi kaunanti…:P
Kamis, 16 Oktober 2008
Selasa, 16 September 2008
Technology has made the world a better place to live
Technology has played an important role in our lives nowadays. People use technology almost in all aspects of their lives. Technology has become part of our lives. From example, when we wake up then see what time it is we see our clock, clock is the example of technology. Then before we start our daily activity, we take a shower using shower, shower is another example of technology. That just simple example, I can give you more examples but what I want to emphasize is I want to show that we face technology everyday in our lives. We can not deny that we need technology. Before we talk too much about technology, I think it is better for us to know what the meaning of technology is. According to Webster’s II New Riverside Dictionary, technology is the application of scientific knowledge, and the methods and materials of applied science. In other word, we can simplify that technology includes two things, the methods and the products.
Electricity is one of the products of technology. We use electricity as our source in doing our activity. For example: we need electricity to turn on the lamp, imagine if there were no electricity, means that no lamp, we would live in the darkness. We use electricity to turn on our telephones, TV, radio, refrigerator, washing-machine, and of course computer. We have to admit that computer nowadays is our second brain, our tool to do our job. Almost every job use computer. Computers also control a lot of things, if there were no computers, we would control manually which would be difficult.
Below, I would like to describe some of the advantages of technology in some aspects.
Technology in transportation makes it easy to move from one place to another place because the invention of car, plane, ship, train, etc. It allows us to be a mobile person, and it saves our time. For example if we want to go to other country, we can use plane, which is take a very short time to travel abroad. It allows us to visit other places in a short time.
Technology in medical field has helped doctors cure their medical patients. Technology helps people live longer, I mean technology can cure some diseases, also can retard the damage of the body. For example, hemodialisa machine can help patients with kidney problem live longer because this machine can retard the damage of the kidney. This machine replaces the kidney by discard the poison in the body. In surgery, now we have the method which is called laparoscopy. This method gives more advantage than the manual surgery. Laparoscopy is different with manual surgery, we do not need long cutlet. In laparoscopy, the surgical operation does not need cutlet, it only needs very small pricks in our body. This prick is very small, only like a dot. It needs three pricks in our body, from these pricks, some kind of tube enters our body, also the camera. And the doctor does the surgery by seeing the monitor. The advantages of this method are low risk, the recovery only need a short time, painless, no scratch.
Technology in working area makes the job easier to be done. As I mentioned earlier that recently almost every job has been controlled by computer. Computer helps people do their job effectively and efficiently.
Technology in education field supports the learning process that can motivate and help the students.
Technology in household helps people do the housework. For example, we do not need to wash manually, but we can use washing machine.
Technology in communication helps people communicate and get in touch with others effectively and efficiently. For example, we can use telephones, cell phones to talk to our relatives that live in different city. By watching television, we know what happens in the world, etc.
Somehow, technology helps us in make things easy to do. Technology makes our lives be much easier to live. By technology, we can do everything easily. We need technology to support our life. I think people start to depend on technology. In other words, we can say that we can not live without technology. And of course technology has made the world a better place to live. Technology helps us to overcome the problem as a human being in the world. Technology gives us the things that we can not get from the nature. But of course we have to have a big responsibility in using technology. We have to be aware of the development of technology. As a human being, we have to remember that we are the creator of technology not the slave of technology. We have to use technology in a good purpose, not to harm others. When we use technology, we have to care about environment, animals, and other people. Do not be greedy, do not use technology as a tool to do crime or evil things. :)
Electricity is one of the products of technology. We use electricity as our source in doing our activity. For example: we need electricity to turn on the lamp, imagine if there were no electricity, means that no lamp, we would live in the darkness. We use electricity to turn on our telephones, TV, radio, refrigerator, washing-machine, and of course computer. We have to admit that computer nowadays is our second brain, our tool to do our job. Almost every job use computer. Computers also control a lot of things, if there were no computers, we would control manually which would be difficult.
Below, I would like to describe some of the advantages of technology in some aspects.
Technology in transportation makes it easy to move from one place to another place because the invention of car, plane, ship, train, etc. It allows us to be a mobile person, and it saves our time. For example if we want to go to other country, we can use plane, which is take a very short time to travel abroad. It allows us to visit other places in a short time.
Technology in medical field has helped doctors cure their medical patients. Technology helps people live longer, I mean technology can cure some diseases, also can retard the damage of the body. For example, hemodialisa machine can help patients with kidney problem live longer because this machine can retard the damage of the kidney. This machine replaces the kidney by discard the poison in the body. In surgery, now we have the method which is called laparoscopy. This method gives more advantage than the manual surgery. Laparoscopy is different with manual surgery, we do not need long cutlet. In laparoscopy, the surgical operation does not need cutlet, it only needs very small pricks in our body. This prick is very small, only like a dot. It needs three pricks in our body, from these pricks, some kind of tube enters our body, also the camera. And the doctor does the surgery by seeing the monitor. The advantages of this method are low risk, the recovery only need a short time, painless, no scratch.
Technology in working area makes the job easier to be done. As I mentioned earlier that recently almost every job has been controlled by computer. Computer helps people do their job effectively and efficiently.
Technology in education field supports the learning process that can motivate and help the students.
Technology in household helps people do the housework. For example, we do not need to wash manually, but we can use washing machine.
Technology in communication helps people communicate and get in touch with others effectively and efficiently. For example, we can use telephones, cell phones to talk to our relatives that live in different city. By watching television, we know what happens in the world, etc.
Somehow, technology helps us in make things easy to do. Technology makes our lives be much easier to live. By technology, we can do everything easily. We need technology to support our life. I think people start to depend on technology. In other words, we can say that we can not live without technology. And of course technology has made the world a better place to live. Technology helps us to overcome the problem as a human being in the world. Technology gives us the things that we can not get from the nature. But of course we have to have a big responsibility in using technology. We have to be aware of the development of technology. As a human being, we have to remember that we are the creator of technology not the slave of technology. We have to use technology in a good purpose, not to harm others. When we use technology, we have to care about environment, animals, and other people. Do not be greedy, do not use technology as a tool to do crime or evil things. :)
A Letter for God
Dear God…
God…If you’re there. If you really exist (I hope you do) please read this.
I am writing this cos’ I don’t know how to tell You what I feel…
They say You already know it without I’m telling You, but does it really true? I don’t know…
Too many questions in my head, I wish I could find the answer but I couldn’t.
Then I turn to You, but You keep silent… What is wrong with You? Or may be I should ask myself, what’s wrong with me?
God, they say You will answer our prayer, but You didn’t answer mine. Why?
I always believe in You, I depend on You but You let me down once…and its hurt…
I won’t forget the day You did it to me…
It was like a nightmare and I wished that I could wake up and realize that it was just a dream. But it wasn’t…
It was real…as real as life…
How could You do this to me?
I was mad…angry…sad…disappointed…and I gave up on You…
I started to lose my faith on You… I thought You didn’t exist.
It took a long time to realize what’s behind this whole thing.
I knew that I’m not a child anymore.
Time to grow up. And grow up means that I have to accept reality and try to deal with Your plan, whatever it is.
May be You have Your own plan and may be it is not something that I want but I have to face it…
May be it is called grow up.
God, You are mystery…
You will always be…
God…If you’re there. If you really exist (I hope you do) please read this.
I am writing this cos’ I don’t know how to tell You what I feel…
They say You already know it without I’m telling You, but does it really true? I don’t know…
Too many questions in my head, I wish I could find the answer but I couldn’t.
Then I turn to You, but You keep silent… What is wrong with You? Or may be I should ask myself, what’s wrong with me?
God, they say You will answer our prayer, but You didn’t answer mine. Why?
I always believe in You, I depend on You but You let me down once…and its hurt…
I won’t forget the day You did it to me…
It was like a nightmare and I wished that I could wake up and realize that it was just a dream. But it wasn’t…
It was real…as real as life…
How could You do this to me?
I was mad…angry…sad…disappointed…and I gave up on You…
I started to lose my faith on You… I thought You didn’t exist.
It took a long time to realize what’s behind this whole thing.
I knew that I’m not a child anymore.
Time to grow up. And grow up means that I have to accept reality and try to deal with Your plan, whatever it is.
May be You have Your own plan and may be it is not something that I want but I have to face it…
May be it is called grow up.
God, You are mystery…
You will always be…
Minggu, 14 September 2008
Aku dan Dunia
Dunia…satu kata sejuta makna. Setiap orang akan mengartikan kata ‘dunia’ secara berbeda. Tiap orang juga akan menggunakan kata ‘dunia’ dalam konteks yang berbeda. Sering kan kita dengar istilah ‘dunia politik,’ ‘dunia hiburan,’ ‘dunia remaja,’ ‘dunia anak,’ dsbnya. Atau dunia digunakan untuk menerangkan sesuatu yang bersifat global seperti pada istilah ‘piala dunia.’ Tulisan ini tidak bermaksud membahas kata ‘dunia’ dari segi bahasa, jadi kita sudahi saja perbincangan mengenai penggunaan kata ‘dunia’ dalam berbagai konteks.
Supaya tidak melenceng kemana-mana, aku mau mempersempit kata dunia yang aku gunakan dalam tulisan ini. Dunia yang kumaksud disini adalah dunia dimana aku hidup termasuk orang-orang di sekitarnya. Dunia dimana aku menjalani kehidupan sehari-hari dan berinteraksi dengan orang lain. Termasuk masyarakat dimana aku hidup berikut dengan norma peraturan dan segala tetek-bengek tentangnya.
Sebagai penghuni dunia kadang aku merasa kalau aku hidup dalam dunia yang berseberangan. Aku tidak selalu sepaham dengan dunia. Dunia dimana aku hidup terlalu ‘hipokrit’ dan terlalu ‘mendikte.’ Dunia dimana aku hidup adalah dunia yang sangat tidak bersahabat. Dunia yang memakai topeng dan enggan melepaskan topengnya. Dunia yang penuh kepalsuan.
Ini semua karena dunia dibentuk oleh orang-orang yang ‘hipokrit,’ orang-orang sok pintar yang merasa diri mereka paling benar. Orang-orang yang suka mendikte, suka mengatur namun tidak suka diatur dan suka ikut campur. Mereka yang hanya bisa membuat peraturan tapi tidak bisa mematuhi peraturan. Mereka yang egois namun mengaku berjiwa sosial. Mereka yang bertindak sebagai Tuhan.
Kadang aku muak dengan dunia…Aku muak dengan dunia yang ‘mendikteku.’ Memintaku menjadi seseorang yang bukan aku. Dunia yang tidak bisa menerima fakta bahwa aku ‘berbeda,’ fakta bahwa semua orang itu ‘berbeda.’ Dunia yang terlalu mengatur. Dunia yang tidak menghargai kesetaraan dan Hak Asasi Manusia.Mereka yang mengaku sebagai penjunjung HAM nyatanya hanya bisa ‘berkoar’ tapi tidak bisa menghargai HAM. Kepalsuan yang aku lihat dalam dunia ini layaknya sebuah sandiwara dengan ‘orang-orang sok berkuasa’ sebagai sutradaranya. Sungguh sangat memuakkan…
Tapi itulah dunia. Dunia yang aku hadapi, aku lihat, dan aku rasakan. Aku hanyalah satu dari sekian banyak orang yang mencoba bertahan dalam dunia ini. Aku hanyalah sesosok kecil dalam dunia yang besar. Aku tidak suka didikte, tidak suka diatur, tidak suka dikekang. Aku ingin bebas, bebas menjadi diriku sendiri, bebas memilih, bebas melakukan apa pun. Aku tidak suka orang menyampuri urusanku. Tapi sayangnya aku tidak bisa sebebas itu, karena aku hidup di ‘dunia nyata,’ Aku tidak hidup sendiri, aku hidup bersama orang lain.
Namun aku tidak menyerah. Aku akan melawan dunia jika mereka memojokkanku. Aku akan meraih kebebasanku dan menciptakan duniaku. Dunia dimana aku bisa merasa nyaman dan tak ada seorang pun yang menggangguku karena aku juga tak akan mengganggu mereka.
Jika dunia mulai memusuhiku, aku akan berlari ke duniaku. Masuk ke dalam duniaku, dan tinggal sendiri di dalamnya. Tak ada yang bisa masuk karena pintu duniaku tertutup untuk orang lain. Sayangnya itu semua hanya ada dalam khayalanku. Duniaku hanya ada dalam imajinasiku, dalam pikiranku. Aku tetap harus menghadapi dunia yang sesungguhnya walau terkadang aku memilih melarikan diri dalam duniaku…
Supaya tidak melenceng kemana-mana, aku mau mempersempit kata dunia yang aku gunakan dalam tulisan ini. Dunia yang kumaksud disini adalah dunia dimana aku hidup termasuk orang-orang di sekitarnya. Dunia dimana aku menjalani kehidupan sehari-hari dan berinteraksi dengan orang lain. Termasuk masyarakat dimana aku hidup berikut dengan norma peraturan dan segala tetek-bengek tentangnya.
Sebagai penghuni dunia kadang aku merasa kalau aku hidup dalam dunia yang berseberangan. Aku tidak selalu sepaham dengan dunia. Dunia dimana aku hidup terlalu ‘hipokrit’ dan terlalu ‘mendikte.’ Dunia dimana aku hidup adalah dunia yang sangat tidak bersahabat. Dunia yang memakai topeng dan enggan melepaskan topengnya. Dunia yang penuh kepalsuan.
Ini semua karena dunia dibentuk oleh orang-orang yang ‘hipokrit,’ orang-orang sok pintar yang merasa diri mereka paling benar. Orang-orang yang suka mendikte, suka mengatur namun tidak suka diatur dan suka ikut campur. Mereka yang hanya bisa membuat peraturan tapi tidak bisa mematuhi peraturan. Mereka yang egois namun mengaku berjiwa sosial. Mereka yang bertindak sebagai Tuhan.
Kadang aku muak dengan dunia…Aku muak dengan dunia yang ‘mendikteku.’ Memintaku menjadi seseorang yang bukan aku. Dunia yang tidak bisa menerima fakta bahwa aku ‘berbeda,’ fakta bahwa semua orang itu ‘berbeda.’ Dunia yang terlalu mengatur. Dunia yang tidak menghargai kesetaraan dan Hak Asasi Manusia.Mereka yang mengaku sebagai penjunjung HAM nyatanya hanya bisa ‘berkoar’ tapi tidak bisa menghargai HAM. Kepalsuan yang aku lihat dalam dunia ini layaknya sebuah sandiwara dengan ‘orang-orang sok berkuasa’ sebagai sutradaranya. Sungguh sangat memuakkan…
Tapi itulah dunia. Dunia yang aku hadapi, aku lihat, dan aku rasakan. Aku hanyalah satu dari sekian banyak orang yang mencoba bertahan dalam dunia ini. Aku hanyalah sesosok kecil dalam dunia yang besar. Aku tidak suka didikte, tidak suka diatur, tidak suka dikekang. Aku ingin bebas, bebas menjadi diriku sendiri, bebas memilih, bebas melakukan apa pun. Aku tidak suka orang menyampuri urusanku. Tapi sayangnya aku tidak bisa sebebas itu, karena aku hidup di ‘dunia nyata,’ Aku tidak hidup sendiri, aku hidup bersama orang lain.
Namun aku tidak menyerah. Aku akan melawan dunia jika mereka memojokkanku. Aku akan meraih kebebasanku dan menciptakan duniaku. Dunia dimana aku bisa merasa nyaman dan tak ada seorang pun yang menggangguku karena aku juga tak akan mengganggu mereka.
Jika dunia mulai memusuhiku, aku akan berlari ke duniaku. Masuk ke dalam duniaku, dan tinggal sendiri di dalamnya. Tak ada yang bisa masuk karena pintu duniaku tertutup untuk orang lain. Sayangnya itu semua hanya ada dalam khayalanku. Duniaku hanya ada dalam imajinasiku, dalam pikiranku. Aku tetap harus menghadapi dunia yang sesungguhnya walau terkadang aku memilih melarikan diri dalam duniaku…
Selasa, 09 September 2008
Kakak Yang Selalu Ingin Tahu
Kata orang banyak saudara itu enak, banyak yang nolongin kalo lagi susah. Makanya banyak anak tunggal yang pengen punya saudara. Katanya sih kalau jadi anak tunggal itu suka kesepian di rumah. Wah berbanding terbalik dengan aku dong... Kebetulan aku lahir di tengah-tengah keluarga besar. Aku punya dua kakak cewek dan dua kakak cowok. Komplet kan? :p
Seru lho punya keluarga besar, kalau semua kumpul di rumah, wah ramenya ngga ketulungan...pasar aja kalah. Biasanya sih rame berantem.he3... Maklumlah yang namanya punya saudara kan harus berbagi, nah kadang ada yang ngga mau ngalah. Ngotot mau menang sendiri. Jadinya ya berantem d... Makanan sehari-hari tuh.
Tapi yang mau aku bagi disini bukan masalah berantem itu, cuma aku mau bagi pengalaman ngadepin kakak cowok yang dari luar sok cool dan sok cuek tapi dalemnya pengen tahuuuuuu terussss. Maklumlah namanya juga cowok suka sok ngga peduli padahal penasaran gitu d...
Yang namanya punya saudara itu, mau ngga mau harus berbagi. Mulai dari berbagi kasih sayang orang tua sampai berbagi hal yang kecil kayak berbagi tempat, tv, makanan,dsbnya...hehehe... Soal berbagi sih ngga masalah buat aku, karena dari kecil udah terbiasa dengan itu semua. Tapi yang sering bikin gerah itu kalau mulai kakak-kakak pengen tahu urusanku.
Sebel? Udah pasti itu aku rasain. Gimana ngga sebel kalau mereka selalu aja pengen tahu. Selalu ikut-ikutan nimbrung kalau lagi ngobrol sama kakak cewek. Padahal kan masalah cewek gitu lho...
Yang paling bikin sebel kalau dua kakak cowokku semena-mena keluar masuk kamar, ikut-ikutan nguping kalau kita lagi nggosip, dan yang paling parah kalau mulai lihat-lihat lemari rahasia kita (tempat kita nyimpen barang-barang rahasia :p) trus nglihatin isinya, kalau ada kartu atau surat dibaca. Waduhhhhh...bikin emosi tingkat tinggi tuh...Kalau diusir malah ketawa-ketawa njengkelin...Huhhhhh.......Dasar!!!
Tapi itu dulu sih... Sekarang udah ngga separah itu kok. Masih suka ikut nimbrung gosip, masih suka keluar masuk kamar, masih suka pinjem buku ngga balikin, tapi udah ngga berani lihat yang rahasia2 lagi...Hehehe... Kalau sampai berani... Balasannya lebih kejam... :p
Mungkin emang yang namanya kakak itu dimana2 sama aja. Selalu pengen tahu kehidupan adiknya. Entah karena peduli atau cuma ngga ada kerjaan lain... Who knows? Cuma mereka yang tahu. Terlepas dari itu, mereka tetaplah kakak kita. Mau nyebelin, njengkelin, nyenengin... terima aja apa adanya. Toh Tuhanlah yang memilih mereka untuk jadi saudara kita. Bukan kita yang memilih.
Walaupun menerima mereka apa adanya bukan berarti juga kita ngga boleh kesel sama mereka. Mau kesel sah2 aja kok. Bahkan jujur aja tulisan ini aku buat saat aku sedang kesal dengan kakakku. Gara-garanya sepele, waktu aku lg bikin tulisan buat ngisi blogku ini, kakakku ikut-ikutan lihat, berdiri di belakangku trus komentar-komentar yang ngga penting. Paling males kalau lagi ngerjain sesuatu trus ada orang yang berdiri di belakangku terus komentar... Malah mood nulisnya ngga jadi keluar d...
Seru lho punya keluarga besar, kalau semua kumpul di rumah, wah ramenya ngga ketulungan...pasar aja kalah. Biasanya sih rame berantem.he3... Maklumlah yang namanya punya saudara kan harus berbagi, nah kadang ada yang ngga mau ngalah. Ngotot mau menang sendiri. Jadinya ya berantem d... Makanan sehari-hari tuh.
Tapi yang mau aku bagi disini bukan masalah berantem itu, cuma aku mau bagi pengalaman ngadepin kakak cowok yang dari luar sok cool dan sok cuek tapi dalemnya pengen tahuuuuuu terussss. Maklumlah namanya juga cowok suka sok ngga peduli padahal penasaran gitu d...
Yang namanya punya saudara itu, mau ngga mau harus berbagi. Mulai dari berbagi kasih sayang orang tua sampai berbagi hal yang kecil kayak berbagi tempat, tv, makanan,dsbnya...hehehe... Soal berbagi sih ngga masalah buat aku, karena dari kecil udah terbiasa dengan itu semua. Tapi yang sering bikin gerah itu kalau mulai kakak-kakak pengen tahu urusanku.
Sebel? Udah pasti itu aku rasain. Gimana ngga sebel kalau mereka selalu aja pengen tahu. Selalu ikut-ikutan nimbrung kalau lagi ngobrol sama kakak cewek. Padahal kan masalah cewek gitu lho...
Yang paling bikin sebel kalau dua kakak cowokku semena-mena keluar masuk kamar, ikut-ikutan nguping kalau kita lagi nggosip, dan yang paling parah kalau mulai lihat-lihat lemari rahasia kita (tempat kita nyimpen barang-barang rahasia :p) trus nglihatin isinya, kalau ada kartu atau surat dibaca. Waduhhhhh...bikin emosi tingkat tinggi tuh...Kalau diusir malah ketawa-ketawa njengkelin...Huhhhhh.......Dasar!!!
Tapi itu dulu sih... Sekarang udah ngga separah itu kok. Masih suka ikut nimbrung gosip, masih suka keluar masuk kamar, masih suka pinjem buku ngga balikin, tapi udah ngga berani lihat yang rahasia2 lagi...Hehehe... Kalau sampai berani... Balasannya lebih kejam... :p
Mungkin emang yang namanya kakak itu dimana2 sama aja. Selalu pengen tahu kehidupan adiknya. Entah karena peduli atau cuma ngga ada kerjaan lain... Who knows? Cuma mereka yang tahu. Terlepas dari itu, mereka tetaplah kakak kita. Mau nyebelin, njengkelin, nyenengin... terima aja apa adanya. Toh Tuhanlah yang memilih mereka untuk jadi saudara kita. Bukan kita yang memilih.
Walaupun menerima mereka apa adanya bukan berarti juga kita ngga boleh kesel sama mereka. Mau kesel sah2 aja kok. Bahkan jujur aja tulisan ini aku buat saat aku sedang kesal dengan kakakku. Gara-garanya sepele, waktu aku lg bikin tulisan buat ngisi blogku ini, kakakku ikut-ikutan lihat, berdiri di belakangku trus komentar-komentar yang ngga penting. Paling males kalau lagi ngerjain sesuatu trus ada orang yang berdiri di belakangku terus komentar... Malah mood nulisnya ngga jadi keluar d...
Minggu, 07 September 2008
“Chick-Lit” Rasa India
For Matrimonial Purposes, Cinta Kan Datang
Pengarang : Kavita Daswani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2004
Tebal : 311 halaman
Kisah seru seorang perempuan kosmopolitan India yang terbentur dengan masalah perjodohan.
Anju, gadis India yang besar di Bombay, tumbuh dalam tradisi keluarga yang masih kolot. Sejak kecil Anju telah diajarkan bagaimana menjadi istri yang baik dan dipersiapkan untuk itu. Orangtuanya giat menjodohkan Anju dengan pria-pria India yang sesuai standar mereka. Namun perjodohan tersebut tidak ada yang berbuah manis. Jasa astrolog pun digunakan untuk memperlancar jodoh Anju. Namun tetap tidak ada hasilnya. Dan ini dianggap kegagalan bagi Anju, karena menikah bagi orang India adalah suatu kebanggaan.
Lelah dikasihani, Anju memutuskan melanjutkan studi ke Amerika. Meskipun awalnya ditentang, dengan sedikit tipuan dari astrolog kepercayaan keluarga Anju, ijin pun keluar. Di negeri impian itu Anju berhasil merintis karier sebagai humas dunia mode. Sewaktu sepupunya Nina yang berumur 22 tahun menikah, orangtua Anju semakin putus asa karena Anju yang berusia 33 tahun belum menikah. Kegiatan perjodohan pun semakin gencar dilakukan. Namun tetap gagal. Melalui pencariannya yang unik, cinta pun mendatangi Anju.
Kisah unik ini dituturkan dengan gaya bahasa khas “chick-lit” (chick-literature) yang lugas, santai namun cerdas. Selain judul ini “chick-lit” terdiri dari serangkaian judul yang berbeda pengarangnya. Judul-judul seperti The guy next door; Always The Bridesmaid; Can’t you keep a secret; Shopaholic; Wanderlust merupakan judul-judul “chick-lit” lainnya. Hampir semua cerita memiliki kesamaan. Semua kisahnya memaparkan kehidupan wanita karier yang masih lajang dan mandiri.
Berbeda dengan “chick-lit” lain yang kerap kali memaparkan kehidupan liar tokohnya. For matrimonial purposes ini, mengkarakterkan tokohnya sebagai perempuan baik-baik yang masih menjaga tradisi. Kesamaan tradisi antara Indonesia dan India membuat buku ini terasa lebih cocok dan dekat dengan kehidupan perempuan di Indonesia.
Kavita Daswani yang memang orang India asli menyelipkan beberapa kosakata dan kebiasaan India dalam buku ini. Buku ini akan menambah pengetahuan anda tentang India bukan hanya film dan goyangnya saja. Budaya India yang masih kental mewarnai kisah ini. Meskipun telah lama tinggal di negeri barat namun budaya ketimuran Anju masih melekat kuat. Mungkin ini salah satu pesan terselubung yang ingin disampaikan pengarang. Yakni jangan lupa akarmu.
Keistimewaan buku ini ada pada kisahnya yang mengangkat tradisi India yang kental dalam kehidupan perempuan kosmopolitan. Baru buku ini yang mengetengahkan budaya timur dalam “chick-lit,” kisah lainnya berlatar belakang budaya barat.
Penuturan kisah ini agak membingungkan karena ada unsur flashback. Buku yang terdiri dari sembilan belas bab ini diakhiri dengan epilog yang menjadi penutup kisah cinta Anju. Adanya kutipan kalimat dari seorang tokoh maupun buku di awal setiap bab menjadi daya tarik tersendiri. Gaya ini mengingatkan pada gaya penulisan “Chicken Soup” yang selalu mengutip kalimat di awal kisahnya.
Kelemahan buku ini terlalu menyingkat bagian akhir. Penantian Anju akan cinta seakan tergesa-gesa ditutup pengarang dengan kehadiran Rohan yang tiba-tiba. Tidak ada kejutan diakhir cerita, semuanya seakan mudah ditebak. Dari awal pengarang tidak menghadirkan kejutan yang berarti. Sama dengan “chick-lit” lainnya, si tokoh akhirnya menemukan pasangan. Ini sebenarnya tidak sesuai dengan semboyan “chick-lit” being single and happy, harusnya pengarang berani membuat ending dimana si tokoh tetap lajang. Hidup lajang bukanlah akhir dari segalanya. Orang tidaklah harus menikah untuk bahagia karena hidup sendiri pun juga bisa bahagia.
Secara keseluruhan buku ini memang cocok sebagai bacaan ringan untuk mengisi waktu luang. Kisahnya disesuaikan dengan target pembaca yaitu perempuan muda yang lajang dan mandiri:)
Pengarang : Kavita Daswani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2004
Tebal : 311 halaman
Kisah seru seorang perempuan kosmopolitan India yang terbentur dengan masalah perjodohan.
Anju, gadis India yang besar di Bombay, tumbuh dalam tradisi keluarga yang masih kolot. Sejak kecil Anju telah diajarkan bagaimana menjadi istri yang baik dan dipersiapkan untuk itu. Orangtuanya giat menjodohkan Anju dengan pria-pria India yang sesuai standar mereka. Namun perjodohan tersebut tidak ada yang berbuah manis. Jasa astrolog pun digunakan untuk memperlancar jodoh Anju. Namun tetap tidak ada hasilnya. Dan ini dianggap kegagalan bagi Anju, karena menikah bagi orang India adalah suatu kebanggaan.
Lelah dikasihani, Anju memutuskan melanjutkan studi ke Amerika. Meskipun awalnya ditentang, dengan sedikit tipuan dari astrolog kepercayaan keluarga Anju, ijin pun keluar. Di negeri impian itu Anju berhasil merintis karier sebagai humas dunia mode. Sewaktu sepupunya Nina yang berumur 22 tahun menikah, orangtua Anju semakin putus asa karena Anju yang berusia 33 tahun belum menikah. Kegiatan perjodohan pun semakin gencar dilakukan. Namun tetap gagal. Melalui pencariannya yang unik, cinta pun mendatangi Anju.
Kisah unik ini dituturkan dengan gaya bahasa khas “chick-lit” (chick-literature) yang lugas, santai namun cerdas. Selain judul ini “chick-lit” terdiri dari serangkaian judul yang berbeda pengarangnya. Judul-judul seperti The guy next door; Always The Bridesmaid; Can’t you keep a secret; Shopaholic; Wanderlust merupakan judul-judul “chick-lit” lainnya. Hampir semua cerita memiliki kesamaan. Semua kisahnya memaparkan kehidupan wanita karier yang masih lajang dan mandiri.
Berbeda dengan “chick-lit” lain yang kerap kali memaparkan kehidupan liar tokohnya. For matrimonial purposes ini, mengkarakterkan tokohnya sebagai perempuan baik-baik yang masih menjaga tradisi. Kesamaan tradisi antara Indonesia dan India membuat buku ini terasa lebih cocok dan dekat dengan kehidupan perempuan di Indonesia.
Kavita Daswani yang memang orang India asli menyelipkan beberapa kosakata dan kebiasaan India dalam buku ini. Buku ini akan menambah pengetahuan anda tentang India bukan hanya film dan goyangnya saja. Budaya India yang masih kental mewarnai kisah ini. Meskipun telah lama tinggal di negeri barat namun budaya ketimuran Anju masih melekat kuat. Mungkin ini salah satu pesan terselubung yang ingin disampaikan pengarang. Yakni jangan lupa akarmu.
Keistimewaan buku ini ada pada kisahnya yang mengangkat tradisi India yang kental dalam kehidupan perempuan kosmopolitan. Baru buku ini yang mengetengahkan budaya timur dalam “chick-lit,” kisah lainnya berlatar belakang budaya barat.
Penuturan kisah ini agak membingungkan karena ada unsur flashback. Buku yang terdiri dari sembilan belas bab ini diakhiri dengan epilog yang menjadi penutup kisah cinta Anju. Adanya kutipan kalimat dari seorang tokoh maupun buku di awal setiap bab menjadi daya tarik tersendiri. Gaya ini mengingatkan pada gaya penulisan “Chicken Soup” yang selalu mengutip kalimat di awal kisahnya.
Kelemahan buku ini terlalu menyingkat bagian akhir. Penantian Anju akan cinta seakan tergesa-gesa ditutup pengarang dengan kehadiran Rohan yang tiba-tiba. Tidak ada kejutan diakhir cerita, semuanya seakan mudah ditebak. Dari awal pengarang tidak menghadirkan kejutan yang berarti. Sama dengan “chick-lit” lainnya, si tokoh akhirnya menemukan pasangan. Ini sebenarnya tidak sesuai dengan semboyan “chick-lit” being single and happy, harusnya pengarang berani membuat ending dimana si tokoh tetap lajang. Hidup lajang bukanlah akhir dari segalanya. Orang tidaklah harus menikah untuk bahagia karena hidup sendiri pun juga bisa bahagia.
Secara keseluruhan buku ini memang cocok sebagai bacaan ringan untuk mengisi waktu luang. Kisahnya disesuaikan dengan target pembaca yaitu perempuan muda yang lajang dan mandiri:)
Pay it Forward
Masih ingat film pay it forward? Film drama yang dibintangi Haley Joel Osment, Helen Hunt dan Kevin Spacey ini bercerita tentang seorang anak yang mengajukan teori unik tentang kebaikan. Si anak yang diperankan dengan baik oleh Haley Joel Osment berpendapat jika kita mendapat kebaikan dari seseorang, maka kita harus membagi kebaikan pada tiga orang lainnya. Artinya jika ada orang yang berbuat baik pada kita, kita juga harus berbuat baik pada tiga orang lainnya. Dan selanjutnya tiga orang yang kita bantu tersebut, masing-masing harus menyebarkan kebaikan mereka pada tiga orang lagi. Dan begitu seterusnya… Pada akhirnya semua orang di dunia ini akan berbagi dan saling merasakan kebaikan. Teori yang sangat indah sebenarnya. Cerita yang sederhana ini terangkai dengan indah sehingga mampu mengharubiru penonton (termasuk aku :p). Meski tidak berakhir bahagia, film ini tetap membawa kesan yang dalam buat aku :)
Tapi bukan film ini yang mau aku bahas melainkan ‘teorinya’ si Haley Joel Osment. Coba kalau teori ini bisa dipraktekkan sama orang-orang di seluruh dunia. Dimana mereka saling berbagi kebaikan dan bukannya menabur kebencian. Wah… it would be a wonderful world. Tapi…mimpi kali ya!!!!!!! Susah untuk mewujudkannya. Dunia kan diisi oleh beraneka rupa manusia dengan karakternya yang berbeda-beda. Susah untuk menyatukan mereka dalam satu pemikiran, yakni berbagi kebaikan. Apalagi setiap orang punya definisi sendiri tentang ‘kebaikan.’ Mungkin menurut mereka, mereka sudah berbuat ‘baik,’ tapi muncul pertanyaan, ‘baik’ untuk siapa?
Secara sederhana kata ‘kebaikan’ sering dikonotasikan dengan perbuatan yang berguna bagi orang lain, juga bagi diri sendiri. Dulu waktu kita masih SD, sering kali kita dengar bu guru atau pak guru menasihati kita untuk berbuat baik pada sesama. Waktu pelajaran agama pun, kata-kata ini jadi kata sakti. Ya kayak password kalau mau masuk surga gitu deh… Tapi kayaknya kata-kata ini masuk telinga kanan keluar lewat telinga kiri. Alias ngga ‘nyangkut’ dalam otak kita :p Buktinya masih ada aja kejahatan di muka bumi ini. Ya itu tadi, karena manusia ini beraneka rupa. Ada yang ndengerin, ada yang enggak. Ada yang ‘praktekin’, ada yang ‘enggak’… Kayaknya sia-sia deh bu guru, pak guru, dan pemuka agama menyerukan kebaikan toh mereka ngga didengerin…:p Gimana mau ndengerin kalau kadang mereka yang menyerukan kebaikan tidak memberi contoh yang baik. Justru mereka malah jadi pelaku kejahatan. Lain di mulut lain di perbuatan… Bisa memberi nasihat tapi tidak bisa ‘mempraktekkannya.’ Dan kenyataannya memang begitu. Banyak yang cuma ‘omdo’ alias ‘omong doang.’
Bahkan mungkin aku salah satu di antara mereka. Dari tadi aku ngomong soal kebaikan dsbnya, tapi apa aku sendiri sudah berbuat baik? Setiap kali ingat film Pay It Forward atau mungkin cuma denger or baca tulisan itu, aku selalu bertanya sama diriku sendiri ‘sudahkan aku berbuat baik hari ini?’ Dan mayoritas jawabanku belum :p Harus kuakui kalau aku memang bukan orang baik. Kalau memang ‘kebaikan’ itu didefinisikan perbuatan yang berguna bagi orang lain, berarti aku termasuk orang yang sangat jarang menyebarkan kebaikan. Jarang sekali perbuatanku berguna bagi orang lain. Kadang hanya berguna untuk diriku sendiri, kadang malah merugikan orang lain. Itu karena aku orang yang ‘egois’ yang hanya memikirkan diri sendiri dan mementingkan diri sendiri. Gimana kita bisa berbuat baik kalau yang kita pikirkan hanya diri sendiri. Begitulah manusia… Mungkin banyak orang di luar sana yang seperti aku. Nah kalau mau jadi pengikut teori Haley Joel Osment, aku harus mengurangi ‘ke-egoisan-ku.’ Susah sih…tapi setidaknya aku berusaha untuk mulai berbuat ‘kebaikan.’ Ngga usah muluk-muluk, cukup mulai dari hal-hal yang kecil. Mulai dengan orang-orang di sekeliling kita yang tiap hari bantuin kita. Yah setidaknya show some respects for their help by saying thank you and give them a nice smile :) Percaya ngga kalau sebuah senyuman bisa berguna untuk orang lain? Dulu, aku pernah baca kalau kita memberi senyuman pada seseorang, orang tersebut akan merasa lebih bahagia. Kalau dia lebih bahagia maka dia akan lebih bersemangat dalam bekerja, dan akan menularkan semangat dan kebahagiaannya ke orang lain. Entah benar, entah tidak pendapat ini. Yang pasti aku percaya kalau orang lebih senang mendapat senyuman daripada harus menghadapi wajah masam. Coba bayangkan kalau pagi-pagi kita sudah berhadapan dengan wajah masam, wah… pasti kita jadi jengkel dan ikut uring-uringan. Jadi, daripada menularkan kejengkelan kan lebih baik menularkan keceriaan :)
Beberapa hari yang lalu aku coba mempraktekkan teori kebaikan ini. Waktu bangun pagi, aku sudah mendapat kebaikan. Satu kebaikan. Lalu dalam perjalanan menuju suatu tempat, aku mendapat satu kebaikan lagi. Dua kebaikan. Dua hal sederhana tersebut ternyata mampu menumbuhkan semangatku di pagi yang mendung itu. Aku pun tergerak untuk membagi kebaikan pada orang lain. Walau kebaikan yang aku bagi cuma sederhana, aku harap tetap berguna untuk mereka. Dan semoga mereka membagi kebaikan ke orang lain…:)
Tapi bukan film ini yang mau aku bahas melainkan ‘teorinya’ si Haley Joel Osment. Coba kalau teori ini bisa dipraktekkan sama orang-orang di seluruh dunia. Dimana mereka saling berbagi kebaikan dan bukannya menabur kebencian. Wah… it would be a wonderful world. Tapi…mimpi kali ya!!!!!!! Susah untuk mewujudkannya. Dunia kan diisi oleh beraneka rupa manusia dengan karakternya yang berbeda-beda. Susah untuk menyatukan mereka dalam satu pemikiran, yakni berbagi kebaikan. Apalagi setiap orang punya definisi sendiri tentang ‘kebaikan.’ Mungkin menurut mereka, mereka sudah berbuat ‘baik,’ tapi muncul pertanyaan, ‘baik’ untuk siapa?
Secara sederhana kata ‘kebaikan’ sering dikonotasikan dengan perbuatan yang berguna bagi orang lain, juga bagi diri sendiri. Dulu waktu kita masih SD, sering kali kita dengar bu guru atau pak guru menasihati kita untuk berbuat baik pada sesama. Waktu pelajaran agama pun, kata-kata ini jadi kata sakti. Ya kayak password kalau mau masuk surga gitu deh… Tapi kayaknya kata-kata ini masuk telinga kanan keluar lewat telinga kiri. Alias ngga ‘nyangkut’ dalam otak kita :p Buktinya masih ada aja kejahatan di muka bumi ini. Ya itu tadi, karena manusia ini beraneka rupa. Ada yang ndengerin, ada yang enggak. Ada yang ‘praktekin’, ada yang ‘enggak’… Kayaknya sia-sia deh bu guru, pak guru, dan pemuka agama menyerukan kebaikan toh mereka ngga didengerin…:p Gimana mau ndengerin kalau kadang mereka yang menyerukan kebaikan tidak memberi contoh yang baik. Justru mereka malah jadi pelaku kejahatan. Lain di mulut lain di perbuatan… Bisa memberi nasihat tapi tidak bisa ‘mempraktekkannya.’ Dan kenyataannya memang begitu. Banyak yang cuma ‘omdo’ alias ‘omong doang.’
Bahkan mungkin aku salah satu di antara mereka. Dari tadi aku ngomong soal kebaikan dsbnya, tapi apa aku sendiri sudah berbuat baik? Setiap kali ingat film Pay It Forward atau mungkin cuma denger or baca tulisan itu, aku selalu bertanya sama diriku sendiri ‘sudahkan aku berbuat baik hari ini?’ Dan mayoritas jawabanku belum :p Harus kuakui kalau aku memang bukan orang baik. Kalau memang ‘kebaikan’ itu didefinisikan perbuatan yang berguna bagi orang lain, berarti aku termasuk orang yang sangat jarang menyebarkan kebaikan. Jarang sekali perbuatanku berguna bagi orang lain. Kadang hanya berguna untuk diriku sendiri, kadang malah merugikan orang lain. Itu karena aku orang yang ‘egois’ yang hanya memikirkan diri sendiri dan mementingkan diri sendiri. Gimana kita bisa berbuat baik kalau yang kita pikirkan hanya diri sendiri. Begitulah manusia… Mungkin banyak orang di luar sana yang seperti aku. Nah kalau mau jadi pengikut teori Haley Joel Osment, aku harus mengurangi ‘ke-egoisan-ku.’ Susah sih…tapi setidaknya aku berusaha untuk mulai berbuat ‘kebaikan.’ Ngga usah muluk-muluk, cukup mulai dari hal-hal yang kecil. Mulai dengan orang-orang di sekeliling kita yang tiap hari bantuin kita. Yah setidaknya show some respects for their help by saying thank you and give them a nice smile :) Percaya ngga kalau sebuah senyuman bisa berguna untuk orang lain? Dulu, aku pernah baca kalau kita memberi senyuman pada seseorang, orang tersebut akan merasa lebih bahagia. Kalau dia lebih bahagia maka dia akan lebih bersemangat dalam bekerja, dan akan menularkan semangat dan kebahagiaannya ke orang lain. Entah benar, entah tidak pendapat ini. Yang pasti aku percaya kalau orang lebih senang mendapat senyuman daripada harus menghadapi wajah masam. Coba bayangkan kalau pagi-pagi kita sudah berhadapan dengan wajah masam, wah… pasti kita jadi jengkel dan ikut uring-uringan. Jadi, daripada menularkan kejengkelan kan lebih baik menularkan keceriaan :)
Beberapa hari yang lalu aku coba mempraktekkan teori kebaikan ini. Waktu bangun pagi, aku sudah mendapat kebaikan. Satu kebaikan. Lalu dalam perjalanan menuju suatu tempat, aku mendapat satu kebaikan lagi. Dua kebaikan. Dua hal sederhana tersebut ternyata mampu menumbuhkan semangatku di pagi yang mendung itu. Aku pun tergerak untuk membagi kebaikan pada orang lain. Walau kebaikan yang aku bagi cuma sederhana, aku harap tetap berguna untuk mereka. Dan semoga mereka membagi kebaikan ke orang lain…:)
Langganan:
Postingan (Atom)